Masuk

Ingat Saya

KOPI dan PERDAMAIAN DUNIA

Wajah lelaki berbaju seragam POLRI itu pelahan menjadi semringah menyusul seruputan kedua dari bibir cangkir kopi panas yang disajikan Kang Dirno. Sementara pemuda berseragam bersih disebelahnya sudah mulai bercakap ringan dengan pengunjung kedai kopi lainnya. Disisi kanan 3 meja panjang penuh terisi orang-orang yang mengisi perutnya dan merasakan sengatan kopi hitam yang panas menyegarkan. Berjejer di depan mereka cangkir-cangkir kopi yang masih mengepulkan asap. Asap inilah yang menjadi pertanda dimulainya hari ini.
Kedai Kang Dinro ini berdiri di sekitar Hotel Bintang Lima terbesar di Kota Medan. Ia dan istrinya sudah melayani pembeli sejak tahun 1980 di tempat yang sama. Mereka hafal siapa-siapa pelanggan tetapnya. Kang Dirno yang ramah kadang menyapa yang datang dengan nama paggilanya, satu per satu.
Semakin tahun, pelanggan Kang Dirno ini justru tak berkurang. Kalau saya amati tidak sangat istimewa tempat ini, karena tempat ini hanyalah kedai kecil dipinggir jalan, tetapi pelanggan itu datang dan pergi dengan setia hampir setiap hari.

Barista
Saya menyebut ahli penyeduh kopi dengan istilah ini –barista—. Mereka seperti bartender tetapi khusus kopi. Mereka memerlukan waktu yang panjang dan pengalaman segudang untuk bisa disebut sebagai barista.
Saya kewalahan saat ingin menyebut profesi Kang Dirno ini, kalau saya sebut barista, dia bahkan hanya mengenal 2 jenis kopi. Kopi hitam dan cappucino sachet, itu saja. Dia tidak tahu apa itu espresso, machiato, late dan sebagainya. Dia tidak tahu beda kopi Makasar dan Kopi dari Kilimanjaro. Apalagi filosofi kopi seperti yang di tuliskan Dee di buku kumpulan cerpennya.
Tetapi, dari kaca mata bisnis kelas mikro, Kang Dirno saya angap cukup berhasil mempertahankan pelanggannya hingga kini. Aliran cash-nya sangat bagus. Dari pertanyaan saya, hanya 2 orang saja yang dia ijinkan berhutang, itupun karena faktor tetangga.
Adalah jiwa pelayanan Kang Dirno yang menarik, mengingatkan saya kepada Rudi seorang Bartender di salah satu Lounge di tepian pantai Scheveningen, Den Haag. Mereka berdua seperti seorang konselor yang memahami psikologi manusia. Mereka berdua tahu kapan harus diam membiakan si Tamu sendiri, atau harus mengajak si Tamu berbicara. Bahkan mereka berdia tahu saat berbicara harus memilih topik lucu atau ala kadarnya saja.
Mereka berdua bahkan lumayan tahu rahasia-rahasia para pelanggannya. Dan mereka berdua menutup erat-erat informasi rahasia itu seperti janji kode etik profesinya. Mereka sangat lihai memposisikan diri sebagai pihak yang selalu enak diajak bicara. Bahkan mereka tahu kapan waktunya membiarkan tamu saling berdebat atas topik-topik obrolan yang muncul, sejauh tidak ada perkelahian.

PERDAMAIAN DUNIA
Kopi dan perdamaian dunia? Ah … apa hubungannya? Begitulah pikir saya. Tapi bagi Kang Dirno itu sangat benar dan dia yakini. Selama puluhan tahun melayani orang minum kopi, iya meyakini bahwa kopi memberikan pengaruh yang istimewa kepada peminumnya.
Setelah meminum kopi, biasanya mata jadi awas dan tidak ngantuk. Konsentrasi bekerja lebih baik dan perasaan senang menjalar bersama panasnya kopi memasuki tenggorokan peminumnya.
Menurut Kang Dirno, hati yang suntuk dan gundah, akan sedikit terhibur dengan secangkir kopi yang lezat. Bahkan kebekuan hubungan bisa dilunakkan dengan ngopi bersama.
Kang Dirno tidak lagi sanggup menghitung dan mengingat berapa kasus pertengkaran dan sengketa bisa terselesaikan dikedainya tentu sambil minum kopi. Tidak sedikit kesepakatan-kesepakatan bisnis, perencanaan projek sosial, musyawarah keluarga dan bahkan rentetan kisah cinta hingga perkawinan, semuanya sudah dia lihat terjadi di warungnya dan semuanya terselesaikan dengan secangkir kopi.
Mungkin sedikit naif, tetapi alasan bahwa kopi adalah salah satu unsur penting demi tercapainya perdamaian dunia bagi saya bisa diterima. Apalagi filosofi itu saya kira adalah bahasa motivasi diri bagi Kang Dirno untuk tetap bersemangan dan senang melayani pembeli.
Kang Dirno tidak lagi terbudak dan terpaksa menjadi penjual kopi, tetapi bergema dalam pikiran dan bawah sadarnya bahwa ia melakukan hal yang jauh lebih mulia daripada sekadar seorang penjual kopi. Dalam pikirannya, ia adalah pelayan istimewa yang melayani terciptanya perdamaian dunia. Ia senang ketika wajah-wajah buram itu berubah senang dan tersenyum setelah meminum kopinya. Ia senang jika banyak orang terbantu dan merasa senang.
Ia yakin perdamaian dunia akan tercipta oleh orang-orang berwajah senang dan bersemangat, bukan wajah-wajah teruk, loyo dan pucat.

Alasan
Semua hal bisa dilihat dari berbagai sisi. Termasuk alasan bekerja atau berbisnis. Alasan yang mulia biasanya akan menghasilkan karya yang mulia juga. Itulah yang saya petik dari sikap yang dipilih Kang Dirno.
Ia memilih sesuatu yang mulia dan besar. Ia melakukan tindakan nyata mendamaikan dunia melalui tangan kecilnya yang hanya 2 buah itu dengan karya sederhana.
Alasan itu memang tidak serta merta merubah rasa kopi dan penjualannya, tetapi jika Kang Dirno hanya menggunakan alasan mencari uang dan berjualan kopi, niscaya ia hanya akan bertahan beberapa waktu saja. Bosan dan muak, lalu ia tutup kedai itu dan berganti proffesi lain.
Kang Dirno sudah membuktikan komitmen dirinya selama puluhan tahun tetap setia melayani dan menjaga perdamaia dunia melalui kopinya. Ia tetap menjaga senyumnya kepada wajah-wajah suram yang datang kepadanya. Ia tetap setia menghibur mereka-mereka yang ingin mengajaknya ngobrol sambil memberikan resep mujarab kesegaran berupa kopi hitam panas!
Saya terinspirasi oleh jiwa pelayanan dan alasan yang diyakini Kang Dirno, saya yakin karena itulah saya ingin membaginya kepada anda. Apapun profesi dan pekerjaan kita, pasti ada alasan mulia yang bisa kita yakini selain dari hanya sekadar mencari uang!

Tulisan ini sudah diterbitkan di Harian Waspada Medan, tanggal 23 November 2009 pada halaman bisnis dan teknologi.